This book is not available to purchase on Fable
4.0
Mirah dari Banda
ByPublisher Description
"Dalam liburannya ke Kepulauan Banda, Wendy tertarik kepada koki di dapur. Koki tua itu bernama Mirah, bekas buruh kebun pala, kemudian jadi Nyai Tuan Besar. Ia melahirkan Lili dan Weli.
Lili hilang dibawa tentara Jepang. Mirah tak pernah tahu, Lili kelak melahirkan bayi perempuan yang segera ditinggalnya mati. Bayi itu lalu dipungut orang dan dinamai Wendy Higgins.
Mirah merasa heran tamunya yang juita mengingatkannya kepada Tuan Besar yang hilang karena jemputan tentara Jepang. Tak akan ada orang yang membukakan rahasia, sesungguhnya tamu itu ialah cucu kandungnya yang berbeda ras.
Pengarang tak "mempertemukan" keduanya sebagai orang sedarah. Sebaliknya, ia membawa kita kepada semacam pesona terhadap perjalanan nasib manusia dalam 'campuran kimia' yang aneh penuh dengan misteri penciptaan."
(Gerson Poyk)
Lili hilang dibawa tentara Jepang. Mirah tak pernah tahu, Lili kelak melahirkan bayi perempuan yang segera ditinggalnya mati. Bayi itu lalu dipungut orang dan dinamai Wendy Higgins.
Mirah merasa heran tamunya yang juita mengingatkannya kepada Tuan Besar yang hilang karena jemputan tentara Jepang. Tak akan ada orang yang membukakan rahasia, sesungguhnya tamu itu ialah cucu kandungnya yang berbeda ras.
Pengarang tak "mempertemukan" keduanya sebagai orang sedarah. Sebaliknya, ia membawa kita kepada semacam pesona terhadap perjalanan nasib manusia dalam 'campuran kimia' yang aneh penuh dengan misteri penciptaan."
(Gerson Poyk)
Download the free Fable app

Stay organized
Keep track of what you’re reading, what you’ve finished, and what’s next.
Build a better TBR
Swipe, skip, and save with our smart list-building tool
Rate and review
Share your take with other readers with half stars, emojis, and tags
Curate your feed
Meet readers like you in the Fable For You feed, designed to build bookish communitiesMirah dari Banda Reviews
4.0
“Dari wanita tanpa tanah lahir. Tanpa tenteramnya tanah yang ia pijak, sebab terlalu banyak manusia silih berganti saling menumpahkan darah. Tanpa terhubung dengan orang-orang di sisinya. Banda masih indah dengan segala gelapnya masa lalu.”
“I accidentally found this book in the regional library and it turned out I really fell in love with everything in this book and felt empty after I finished it”
“Fiksi sejarah yang berlatar di Banda, dari masa Belanda, Jepang, hingga setelah kemerdekaan. Pandanganku soal pala, si bumbu dapur, tidak lagi sama setelah bertemu Mirah dan kawan-kawannya. Memasak jadi lebih mindful.
Mirah dari Banda benar-benar membahagiakan aku dalam banyak sisi. Gaya bercerita Bu Hanna Rambe yang sederhana, indah, namun sangat detail berhasil menciptakan setiap lembarnya seperti bernafas dan bernyawa, bahkan hidangan yg disebut seakan bisa dikecap.
Bersama Wendy dan rombongannya, keindahan Banda dihamparkan. Birunya laut, cantiknya terumbu karang, lucunya ikan-ikan, tinggi nan hijaunya pepohonan juga gunung-gunung, pemandangan menyejukkan yang bisa dibayangkan. Pembaca kemudian diajak berkelana menyusuri benteng-benteng lawas peninggalan Belanda, lalu menikmati hidangan khas Banda. Deskripsi kulinernya JUARA! Bumbu, aroma, rasa, segalanya dijelaskan.
Bobot sejarah yang disajikan begitu mengenyangkan kosongnya pengetahuanku terhadap sejarah Banda dan pala, si pohon emas. Gara-gara pala dan fuli, orang Banda asli punah sebab genosida JP Coen di tahun 1621, bahkan Belanda rela menukar pulau Manhattan (waktu itu New Amsterdam) yang besar dengan pulau Rhun yang kecil demi Pala dalam perjanjian Breda bersama Inggris. Sebab pala juga, orang Indonesia pada akhirnya terjajah, tidak merdeka, tidak memiliki harga dan kebebasan, diculik, dijual, menjadi kuli kontrak, kalau cantik dilecehkan atau dijadikan Nyai, lalu tidak bisa pulang seperti Mirah.
Pengalaman Mirah yang sebenarnya berasal dari Semarang, menyibak keseharian dan tekanan yang dialami para pekerja di perkebunan Pala, sekaligus kerumitan dalam merawat dan memanen Pala yang ternyata sulit, salah sedikit bisa gagal panen. Begitu pun dengan monopoli dan siasat tidak terduga yang dilakukan Belanda dalam menjebak para pekerja, termasuk memberi hiburan judi. Mirah juga menjadi saksi dari sadisnya kehadiran Jepang dengan jugun ianfu-nya. Nyeseekkk.”
Start a Book Club
Start a public or private book club with this book on the Fable app today!FAQ
Why can’t I buy this ebook on Fable?
Can I start a book club with this book on Fable?
Are book clubs free to join on Fable?
